Hasil Nyontreng
Walaupun tidak sedikit protes dari masyarakat namun pemilu yang aman secara umum dapat dilaksanakan tidak ada halangan yang serius, kecuali di Papua. “Ya, barangkali ini Pemilu terburuk dalam sejarah kita pasca Orde Baru,” kata Hariman Siregar, tokoh Malari dan mantan anggota Panwaslu 1999. Masalahnya, kisruh daftar pemilih tetap (DPT) masih ditemukan saat pelaksanaan pemungutan suara, …. begitulah suara lantang eyang kita (sorry ngutip).
Selain persoalan DPT ada beberapa kesalahan yang sangat fatal yaitu salah kirim kertas suara, bisa dibayangkan kertas suara untuk jawa barat di kirim ke kalimantan. namun yang lebih banyak pendistribusian per dapil, dapil satu di kirim ke dapil lima, dan sebaliknya itu banyak terjadi, sehingga para pemilih kesulitan mencari nama yang selama ini sudah dikantonginya, …”kok ngga ada ya nama ….meyebut nama caleg dari partai tertentu…… akhirnya saya lipat lagi masukin dah di kotak….” begitu celotehan seorang wagra yang kesal nama jagoannya tidak ada, akhirnya tidak memilih siapapun.
Mudah-mudahan kelemahan yang terjadi dapat diperbaiki pada saat pilpres mendatang, dan semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah khususnya KPU dalam menyelenggarakan Pemilu, Pilkada, dkk-nya. Semoga juga kejadaian ini bukan “hiden agenda” dari siapapun seperti di utarakan beberapa tokoh politik kita. Insya Allah ini pilihan yang baik bagi masayarakat Indonesia dan sudah menjadi kehendakNYA. Amien.
Serangan Fajar
Mendengar kalimat serangan fajar saya teringat pada era tahun 80-an masa itu sebuah film yang sangat populer kalau tidak salah judulnya Janur Kuning, film yang menggambarkan perjuangan Tentara Indonesia yang dipimpin oleh Letkol (klu tidak salah) Soeharto pada tanggal 1 maret 1948 (mudah-mudahan bener nih) menyerang yang tujuannya mengusir penjajah belanda dari Jogjakarta. yang tujuannya membuktikan ke masyarakat Internasional bahwa Indonesia masih mempunyai kekuatan/tentara ini jawaban dari propaganda penjajah bahwa Indonesia sudah lumpuh.
Tu kan kenapa jadi cerita sejarah…. saya selalu mendengar selentingan di masyarakat akan adanya “serangan fajar” tapi bukan seperti yang di paparkan diatas, namun kali ini yang dimaksud serangan fajar di masa hangat-hangatnya suhu politik dalam memperebutkan kursi, dengan caleg yang kalau tidak salah sekitar 1,5 juta orang (mudah-mudahan bener nih) kursi yang tersedia sekitar 100 ribuan, ada sekitar 1,4 juta orang yang telah merogoh tabungannya di bank antara 200-500 juta akan sia-sia saja yang dampaknya menjadi beban psikologi (mungkin tidak semuanya sperti itu). Akan berlomba-lomba kalau dulu bahu-membahu jika sesama partai namun dengan keputusan suara terbanyak yang dikeluarkan MK maka sesama kader partai dan dapilnya sama pun “menjadi musuh”, berbagai cara dilakukan oleh caleg-caleg ini salah satunya membagikan amplop (pasti diisi uang dan tidak lupa diselipkan nama caleg yang memberi) yang di lakukan dinihari sampai menjelang subuh, biasanya diselipkan di bawah pintu rumah dengan harapan pada saat siempunya rumah bangun sudah terhidang “rezeki” untuk sarapan pagi dan ongkos ke Pasar….. hehehe.
Tapi saya yakin masyarakat sekarang sudah lebih cerdas menentukan pilihan yang akan mewakili aspirasi dirinya kelak di DPR, saran saya sebelum masuk TPS pada tanggal 9 April nanti sudah mengantongi nama dan partai yang akan di pilih dengan cara di contreng, dan tidak usah baca-baca nama yang lain karena dijamin pusing kepala, masih mending baca koran dapat informasi, itu hanya berisi gambar partai dan nama caleg saja. Selamat Menentukan Pilihan yang terbaik bagi bangsa ini. Wassalam.
Suara Berlian
Kalau penyanyi yang bersuara bagus, merdu dan di gemari banyak orang biasa disebut bersuara emas, dan oleh seorang produser bisa di jadikan lumbung emas bagi sang pengusaha tersebut.
Namun lain lagi dengan sekarang ini, dimasa sedang hangat-hangatnya semua calon anggota legislatif dan partai politik berlomba-lomba menarik simpati masyarakat yang kelihatannya adem-ayem saja. Jelang Pemilu legislatif 9 April 2009 dan dilanjutkan Pemilihan Presiden 9 Juni 2009 sangat meriah, hampir tidak ada spasi tanah di bumi Indonesia tercinta ini yang tidak dimanfaatkan oleh para caleg dan partai politik dalam mempromosikan diri dan partainya yang dengan “berani” membubuhkan janji-janji (ingin rakyat simpati dan memilihnya) yang mungkin berat pula bagi dia (caleg) nantinya setelah dia terpilih. tapi saya yakin itu adalah bagian dari kreatifitas anak bangsa yang sudah pasti tujuannya baik, ingin punya kontribusi bagi masyarakat minimal di lingkungan konstituen pemilihnya.
Rekan saya yang mengklaim diri dan teman-temannya akan Golput pada pemilu leagislatif 9 April 2009 nanti berseloroh “untuk pemilu 2009 kelihatannya lebih banyak calegnya daripada masyarakat pemilihnya, saya bingung para caleg selalu mengklaim bahwa dia mewakili kelompok masyarakat” …. siapa mewakili siapa, tetangga sebelah rumahnya saja tidak mengenalnya, sekarang saja setelah menjadi caleg aktif pengajian, kerja bakti ronda malam, …… selama ini kemana aja bung ?”
Tapi saya pribadi menyarankan gunakan hak pilih anda jika ingin bangsa ini berubah menuju ke yang lebih baik lagi, kalau tidak ada satupun calon wakil dari sekian banyak caleg yang terpampang di poster-poster, baliho maupun stiker yang anda lihat coba anda cari yang minimal mewakili agama yang kita anut, jangan sampai Islam yang mayoritas karena sebagian besar golput adalah kalangan yang beragama Islam, nanti bisa jadi yang terpilih dari daerah kita dan dianggap mewakili masyarakat di lingkungan kita adalah caleg yang beragama Non-Muslim, tapi itu terserah anda saya pribadi hanya menyarankan saja keputusan ada di tangan anda.
Karena Suara kita begitu berharga maka gunakan hak suara anda untuk memilih wakil dan pemimpin kita yang amanah dan bertanggung jawab, tidak pernah melakukan KKN. Selamat Meilih, ingat bukan nyoblos lagi tapi Contreng.
Fatwa Haram untuk Politisi “Ingkar Janji”
Mengacu kepada dikeluarkannya fatwa haram bagi ummat Islam yang akan memilih golput oleh MUI, mestinya masyarakat sebagai konstituen juga harus diberikan hak untuk menagih janji yang mereka (politisi) umbar tatkala kampanye.
Bukan hanya “tanggung jawab moral” saja seperti yang sering diucapkan diberbagai kesempatan baik pada saat sosialisasi maupun saat kampanye dalam rangka menarik simpati masyarakat sebanyak-banyaknya, karena kalimat tersebut sudah sangat gampang diucapkan familiar di telinga rakyat, sebenarnya maknanya sangat BESAR, namun seiring dengan alam kebebasan demokrasi maknanyapun sudah bergeser, apalagi kalau diucapkannya dengan congkak meyakinkan seolah-olah hanya dia saja yang punya moral. Contoh kalau di Jepang, Harakiri adalah bentuk tanggung jawab moral, atau minimal mundur dari jabatan adalah pilihan terakhir.
Rasanya capek mengikuti tingkat polah mereka, rakyat harus mempunyai hak bertanya dan mengeksekusi/mengambil keputusan manakala wakil kita “berbohong” setelah terpilih nanti. Kontrak Politik adalah salah satu cara agar mereka tidak mengingkari apa yang dijanjikannya pada saat kampanye. Read more »
-
Archives
- August 2009 (1)
- June 2009 (2)
- May 2009 (3)
- April 2009 (4)
- March 2009 (1)
- February 2009 (3)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS





