Dagang Sapi
Dengan Lahirnya Partai Keadilan Sejahtera (dulu PK) awalnya sih berharap banyak ada penyeimbang sejalanĀ dengan munculnya puluhan partai di negeri ini. Partai dengan slogan bersih, peduli, professional itu telah menjadi harapan ummat Islam, dalam kurun waktu 5 tahun mengawal pemerintahan dengan track record yang lumayan baik karena tidak satupun kader PKS yang tersangkut masalah terutama masalah Korupsi yang menjadi trend para pejabat kita baik di parlemen maupun di pemerintahan.
Seusai Pemilihan anggota legislatif (pileg) PKS berhasil menempati ururan ke-4 dengan menempatkan 57 kadernya di Senayan atau meraih suara 7,88 % suara, suatu prestasi yang lumayan dan meningkat dibanding dengan pemilu 2004 lalu, walaupun tidak sesuai dengan target yang di rencanakan kalau tidak keliru 15%.
Namun yang saya sayangkan adalah para petinggi partai ini sudah terjebak dalam permainan Politik Dagang Sapi, Power Sharing yang terkesan haus kekuasaan kami sebagai konstituen PKS muak mendengar Ustadz-ustadz kita berkomentar tentang koalisinya dengan PD yang kader-kadernya “terlalu sombong” dan bertolak belakang dengan “komisarisnya” sendiri.
Itulah politik kejam, sadis tidak mengenal haral dan haram, mungkin juga politikĀ (divide et empera) yang populer dan berhasil di zaman belanda itu menjadi acuan penguasa untuk memecah belah ummat Islam, coba kita perhatikan dari tiga capres/cawapres tidak ada yang mewakili aspirasi ummat islam secara utuh, semuanya abu-abu, kalau PKS tidak cepat bersikap dan kembali ke dasar perjuangan awal didirikan partai ini saya sangat haqul yakin PKS sebagai harapan ummat islam akan ditinggalkan oleh konstituennya yuang notabene adalah ummat islam.
-
Archives
- August 2009 (1)
- June 2009 (2)
- May 2009 (3)
- April 2009 (4)
- March 2009 (1)
- February 2009 (3)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS





